BUDAYA SLAMETAN DALAM MASYARAKAT JAWA

Oleh:
Ahmad Muquffa
(11/318586/SA/16106)

Fakultas Ilmu Budaya Sastra Asia Barat
UniversitasGadjahMadaYogyakarta
2011
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah dengan judul “Budaya Slametan dalam Masyarakat Jawa”. Karya tulis ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas ujian tengah semester Dasar-Dasar Ilmu Budaya.
Penulis menyadari, bahwa karya tulis ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi dan dukungan dalam penyusunan makalah ini. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. Amir Ma’ruf. M,Hum. Selaku dosen pengampu Dasar-Dasar Ilmu Budaya yang telah memberikan masukan dan bimbingan selama pembuatan makalah ini.
2. Rekan-rekan Sastra Asia Barat Prodi Sastra Arab 2011 yang telah memberikan motivasi dan inspirasi bagi penulis.
3. Keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi, inspirasi, dan kasih sayangnya kepada penulis serta dukungan secara materi untuk menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Kritik dan saran sangatlah penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.
Yogyakarta, 8 November 2011

Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 1
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan tersebut merupakan asset Negara yang harus dijaga dan dilestarikan. Dikalangan masyarakat Jawa, tentu telinga sudah tidakasing lagi dengan kata slametan. Mereka sering mengadakan acara slmetan dalam waktu-waktu yang mereka anggap spesial.
Ada berbagai macam slametan yang ada dalam tradisi masyarakat Jawa khususnya. Tiap dari upacara yang dilaksanakan sebenarnya memiliki makna dan nilai budaya yang khusus. Akan tetapi masyarakat sendiri kurang mengetahui maksud, tujuan serta makna mengadakan upacara slametan. Kebanyakan dari mereka hanya mengikuti tradisi secara turun temurun, tanpa mengkaji maksud dan tujuannya lebih lanjut.
Untuk itu penulis mengangkat judul “Budaya Slametan dalam Masyarakat Jawa” sebagai tugas ujian tengah semester matakuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan beberapa masalah
sebagai berikut:
1. Apakah slametan itu?
2. Bagaimana cara melaksanakan dan apa saja jenis dan tujuan dilaksanakannya slametan?
1
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui pengertian tentang slametan.
2. Untuk mengetahui cara melaksanakan, jenis dan tujuan dilaksanakannya slametan.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk merealisasikan pengetahuannya tentang slametan.
2. Memberikan pemahaman tentang slametan kepada orang awam yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang itu.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SLAMETAN
Dalam buku Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, slametan diartikan sebagai upacara sedekah makanan dan doa bersama, yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang menyelenggarakan. Biasanya untuk hajatan keberangkatan naik haji ke tanah suci, keberangkatan anak yang mau sekolah ke luar daerah, pendirian sebuah rumah, dan sebagainya. Harapan di masa depan yan glebih cemerlang, disamping harus dilakukan dengan pendekatan yang ilmiah rasional dan yang serba kasat mata, perlu juga dilakukan pendekatan adikodrati atau supranatural yang bersifat supranatural. Upacara slametan termasuk kegiatan batiniah yang bertujuan untuk mendapat Ridha dari Tuhan. Kegiatan slametan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan di pedusunan Jawa. Ada bahkan yang meyakinibahwa slametan adalah syarat spiritual yang wajib, dan jika dilanggar akan mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan.
Slametan sendiri berasal dari kata slamet yang berarti selamat, bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dari insiden-insiden yang tidak dikehendaki.
Sehingga slametan bisa diartikan sebagai kegiatan-kegiatan masyarakat Jawa yang biasanya digambarkan sebagai pesta ritual, baik upacara di rumah maupun di desa, bahkan memiliki skala yang lebih besar. Dengan demikian, slametan memiliki tujuan akan penegasan dan penguatan kembali tatanan kultur umum. Di samping itu juga untuk menahan kekuatan kekacauan (talak balak).
3
B. JENIS, CARA MELAKSANAKAN SERTA TUJUAN DILAKSANAKANNYA UPACARA SLAMETAN
Dalam makalah ini akan dibahas upacara slametan yang bersifat kecil (individu) dan besar (kelompok). Ini bertujuan untuk pembahasan lebih detail, mengingat banyaknya jenis upacara slametan di masyarakat Jawa.

A. Ngupati dan Mithoni
Dalam tradisi Jawa, terdapat slametan yang bernama ngupati. Ngupati berasal dari kata kupat, yakni nama makanan yang terbuat dari beras dengan daun kelapa (janur) sebagai pembungkus. Slametan ini biasanya dilakukan di saat usia kehamilan sekitar 4 bulan.
Tradisi ngupati adalah slametan yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan, agar anak yang masih dalam kandungan ibu tersebut memiliki kualitas baik, sesuai dengan harapan orangtua. Slametan ini biasanya menggunakan kupat sebagai hidangan utama.
Dalam slametan ini, penyelenggara (tuan rumah) mengundang tetangga dekat, sekitar radius 50 meter untuk berdoa kepada Tuhan yang kemudian dilanjutkan dengan menyuguhkan kupat dan berbagai variasi lauk dan sayur sebagai pelengkap hidangan.
Tradisi serupa dapat dijumpai dengan istilah mithoni. Mithoni berasal dari kata pitu (tujuh). Sebuah ritual hajat slametan pada saat usia kehamilan tujuh bulan. Dalam acara tersebut, disiapkansebuah kelapa gading yang digambari wajah dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Maksud dan tujuannya agar bayi memiliki wajah seperti Dewa Kamajaya jika laki-laki, dan seperti Dewi Kamaratih jika perempuan.
Di samping kelapa gading, dalam slametan tersebut disajikan kluban/kuluban/uraban/gudangan (campuan antara taoge, kacang panjang, bayam, wortel, kelapa parut yang dibumbui), lauk-pauk (ikan, tempe, tahun), dan rujak buah. Kepercayaan mitologi dari sebagian masyarakat Jawa, di saat ibu (yang mengandung bayi yang di-slameti) makan rujak, jika dia merasa pedas atau kepedasan, maka besar kemungkinan bayi yang dikandung adalah laki-laki, demikian jugasebaliknya.
Dalam acara mithoni, ibu tertua mulai memandikan ibu yang mengandung (mithoni) dengan air kembang (bunga) setaman (air yang ditaburi bunga mawar, melati, kenanga, dan kanthil). Proses ini disebut tingkeban, di mana ibu yang mengandung (mithoni) berganti tujuh kain (baju). Setelah selesai, dilanjutkan dengan berdoa dan makan nasi dengan urap dan rujak. Slametan ini sebagaimana disebut di atas sebagai upaya untuk memohon kepada Tuhan agar anak yang dikandung nantinya menjadi anak yang dapat mikul duwur mendhem jero (mengangkat derajat) orangtua dan keluarga.

B. Tradisi Suran
Suran berasal dari kata Sura, yakni nama salah satu bulan dalam kalender Jawa, yang dalam almanak Hijriah disebut muharram. Istilah suran memiliki makna kegiatan yang dilakukan pada bulan Sura.
Dalam tradisi Jawa, bulan Sura memiliki makna spesial. Bulan ini dinyatakan sebagai bulan paling keramat. Di bulan ini ada beberapa aktivitas yang pantang dilakukan dan wajib dilakukan, misalnya pantang melakukan mantu (pesta pernikahan), pindahan (pindah rumah), mbangun (membangun rumah), dan kegiatan semacamnya. Sebaliknya, sebagian orang melakukan berbagai ritual pada bulan Sura.
Tradisi slametan sebagaimana disebutkan di atas masih rutin dilakukan terutama pada masyarakat abangan Jawa dan di lingkungan Kraton di Jawa. Kirap (pengarakan), jamas (penyucian) pusaka dilaksanakan pada bulan ini. Kirap pusaka Kraton Surakarta Hadiningrat dilaksanakan secara tetap setiap malam menjelang 1 Sura Tahun Baru Jawa, yang dimulai kira-kira jam 12 malam hingga jam 4 pagi. Kirap pusaka adalah ritual (slametan) dengan cara pawai atau arak-arakan beberapa pusaka keraton Surakarta Hadiningrat yang memiliki daya magis atau daya prabawa yang dipercaya memiliki kesaktian. Pusaka yang dikirap adalah peninggalan Majapahit dan sebelumnya.
    Sebelum kirab dimulai, diadakan slametan dan sesaji murwah warsa di keraton. Rute kitab adalah Alun-alun Utara, Gladag, Sangkrah, Jalan Pasar Kliwon, Gading, Nonongan, Jalan Slamet Riyadi, ke arah timur menuju Gladag lagi, Alun-alun Utara, Kamandungan, dan masuk Keraton. Jalan yang dilalui jalan yang mengelilingi Keraton Surakarta dengan arah pradiksana (kanan Kraton).
Dalam pelaksanaan kirab, yang paling di depan adalah Kebo Bule Kiai Slamet (Kerbau Bule yang diberi nama Kiai Slamet) sebagai cucuking lampah (pendahulu perjalanan). Di belakannya diikuti oleh para pengarak pembawa pusaka yang disebut Gajah Ngoling. Semula Kiai Slamet adalah nama sebuah pusaka yang berbentuk tombak, sedangkan Kebo Bule adalah nama dari embang (sarung) dari pusaka tersebut.
Upacara kirap pusaka, mula-mula adalah kegiatan tambahan pada acara Wilujeng Nagari (keselamatan negara). Sebuah hajat kenegaraan yang dilaksanakan pada setiap tahun sejak jaman Majapahit. Tujuan kegiatan ini adalah memohon keselamatan negara.
Pada jaman Majapahit hingga jaman Demak, wilujeng negari bernama Murwa Warsa, atau Rajawedha. Slametan ini menggunakan sesaji dari berbagai suguhan makanan, yang di antaranya adalah daging kerbau (mahesa). Dengan menggunakan dominasi daging mahesa (kerbau), maka upacara slametan ini disebut dengan Mahesa Lawung. Upacara ini diselenggarakan di salah satu hutan keramat, yakni Krendawahana. Salah satu hutan yang dipercayai oleh masyarakat Jawa bagian selatan sebagai salah satu pusat lelembut (dunia makhluk yang tidak tampak).
Sesaji dan persembahan dalam tradisi Jawa, istilah yang sangat akrab adalah sesaji. Istilah lainnya dikenal dengan sajen. Sajen atau sesaji adalah persembahan pada makhluk halus sebagai upaya pendekatan agar keberadaan mereka tidak menggangu manusia. Dengan kata lain, tujuan sajen adalah untuk keselamatan.
Maksud dan tujuan yang bermacam-macam tersebut sangatlah penting untuk kita hormati. Walaupun ada sebagian yang mengarah pada perbuatan syirik, kita harus menghormati adanya plurlisme yang terkandung dalam upacara slametan. Tidak lain adalah sikap multikulturalisme yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi masalah-masalah perbedaan maksu dan tujuan diadakannya prosesi slametan.

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Tradisi slametan berakar dari budaya asli Jawa dan tumbuh berkembang dalam masyarakat jawa. Slametan sendiri dapat disimpulkan sebagai upacara atau ritual suatu idividu atau kelompok, dengan cara melakukan kegiatan tertentu untuk mengharap keselamatan. Tidak jarang upacara slametan juga didasari untuk mengharap tolak balak (dijauhkan dari mala petaka).
Tradisi ini seperti sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa. Ada juga yang salah kaprah, terlalu mengagungkan prosesi ini. Menghadapi pluralisme semacam ini, kita harus bersifat multikulturalisme.

B. SARAN
Setiap orang pasti dihadapkan dalam sutu pluralisme budaya. Untuk menghadapi hal tersebut, kita harus mencari sumber agar mengerti dan mendalami suatu budaya, sehingga kita akan bisa mengambil tindakan untuk mengikuti atau tidak budaya yang kita hadapi, termasuk tradisi slametan.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://bing.com//

Geertz Clifford. 1983. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Dunia Pustaka Jaya: Jakarta Pusat.
Purwadi. 2005. Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Bina Media.

9